Tuesday, 10 January 2017

ARSITEKTUR BERKELANJUTAN

Arsitektur Berkelanjutan

Arsitektur berkelanjutan (sustainability architecture) merupakan arsitektur yang menitikberatkan pada keseimbangan antara lingkungan binaan dan lingkungan alam dengan waktu sekarang sampai masa yang akan datang. Arsitektur berkelanjutan tidak lepas dari Pembangunan Berkelanjutan (sustainability development).

A. Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan memerlukan proses integrasi ekonomi dan ekologi mlalui upaya perumusan paradigma dalam mengelol sumber daya seoptimal mungkin.
Dua hal penting dalam konsep berkelanjutan ini yaitu kebutuhan (needs) dan generasi pendatang (future generation) sehingga dalam pembangunan berkelanjutan perlu diperhatikan :
·         Konsep kebutuhan (the concept of needs). Menciptakan kondisi yang menjaga tepenuhinya kebutuhan hidup yang memadai bagi seluruh masyarakat, dimana kaum miskin sedunia harus diberi proritas utama.
·         Konsep keterbatasan (the concept of limits). Memperhatikan dan menjaga kapasitas lingkungan untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan akan datang.
Terdapat empat syarat yang harus dipenuhi bagi suatu proses pembangunan yang berkelanjutan, yaitu :
1.      Menempatkan suatu kegiatan dan proyek pembangunan pada lokasi yang secara ekologis benar.
2.      Pemanfaatkan sumber daya terbarukan (renewable resourse) tidak boleh melebihi potensi lestarinya serta upaya mencari pengganti bagi sumber daya tak tebarukan.
3.      Pembuangan limbah industri dan rumah tangga tidak boleh melebihi kapasitas asimilasi pencemaran.
4.      Perubahan fungsi ekologis tidak boleh melebihi kapasitas daya dukung lingkungan (carryng capacity).


B. Arsitektur Berkelanjutan
Arsitekur memberikan kontribusi terbesar terhadap pemanasan global (global warming).Data ASEAN Center for Energy (ACE), 48% pemanasan glbal dihasilkan oleh bangunan.
Untuk mencapai kenyamanan thermal maupun visual dalam bangunan, kondisi lingkungan internal (temperatur, kelembaban, tingkat iluminasi) dapat diatur tanpa ataupun dengan menggunakan peralatan teknologi mekanikal elektrikal yang menggunakan energi dari sumber yang tidak dapat diperbarui.
Bangunan berkelanjutan adalah bangunan yang menggunakan metode konstruksi yang berkelanjutan dan menggunakan material/bahan bangunan yang memprioritasnkan kualitas lingkungan, vitalitsa ekonomi dan keuntungan sosial melalui perancangan bangunan, operasional bangunan, perawatan dan dekonstruksi lingkungan pada lokasi dimana dilakuakn pembangunan (lingkungan binaan).
Seperti juga pembangunan berkelanjutan yang melihat konsep berkelanjutan dari 3 aspek utama yaitu (1) kemajuan sosial, (2) pertumbuhan ekonomi dan (3) keseimbangan ekologi, maka arsitektur berkelanjutan pun tidak dapat lepas dari aspek-aspek tersebut.
1.      Efisiensi penggunaan energi
·         Memanfaatkan sinar matahari
·         Memanfaatkan penghawaan alami
·         Memanfaatkan air hujan
·         Konsep efisiensi penggunaan energi seperti pencahayaan

2.      Efisiensi penggunaan lahan
·         Menggunakan lahan dengan efisien
·         Potensi hijau tumbuhan dalam lahan
·         menghargai kehadiran tanaman yang ada di lahan
·         Desain terbuka dengan ruang-ruang yang terbuka ke taman
·         Dalam perencanaan desain, pertimbangkan berbagai hal

3.      Efisiensi penggunaan material
·         Memanfaatkan material sisa untuk digunakan dalam pembangunan
·         Memanfaatkan material bekas bangunan atau komponen lama yang masih bisa digunakan
·         Menggunakan material yang masih berlimpah
·         Penggunaan teknologi dan material terbarukan
·         Memanfaatkan potensi terbarukan seperti energi angin, cahaya matahari dan ir
·         Memanfaatkan material baru melalui penemuan baru yang secara global

4.      Manajemen limbah
·         Membuat sistem dekomposisi limbah organik
·         Membuat sistem pengolahan limbah domestik
·         Penyumbang kerusakan lingkungan alam terbesar adalah sektor konstruksi yang secara Global mengonsumsi 50% sumber daya alam,40% energi dan 16% air. Konstruksi juga Menyumbangkan emisi CO2 terbanyak yaitu45% (Akmal, 2007).

   5. Kontribusi Bidang Konstruksi Terhadap Kerusakan Alam
·         Pengambilan material
·         Proses pengolahan material
·         Distribusi material jadi dari sumbernya kelokasi pembangunan
·         Proses konstruksi
·         Pengambilan lahan untuk bangunan
·         Konsumsi energi sejak saat dimulai bangunandipakai

       6. Konstruksi Berkelanjutan, menurut UNEP(United Nations Environment Programme) adalahcara industri konstruksi untuk berkembang mencapai kualitas pembangunan berkelanjutan denganmemperhitungkan pelestarian lingkungan, sosial ekonomi, dan isu budaya. Secara spesifik hal ini melibatkan isu seperti desain, manajemen bangunan, material, kualitas operasional bangunan, konsumsi energi, dan sumber daya alam.
       7.Konstruksi Berkelanjutan Dalam Konteks Arsitektur
·         Arsitektur bukanlah suatu entitas yang lepas dan mandiri. Keberadaannya harus menjadi kesatuan integral dengan sekitarnya, baik secara sosial, spasial maupun lingkungan
·         Berarsitektur dengan memperkuat nilai-nilai Kebersamaan
·         Berarsitektur dengan menghargai ekspresi/identitas budaya sebagai cerminan nilai-nilai transenden
·         Menggunakan bahan dan keterampilan local
·         Menghargai pepohonan sama dengan menghargai kehidupan
·         Adaptif terhadap iklim secara aktif dan kreatif
·         Menggunakan bahan bekas dan komponen lama
·         Menggunakan bahan daur ulang bekas limbah
·         Menggunakan bahan secermat mungkin tanpasisa, tanpa limbah
·         Menggunakan desain padat karya agar dapatmembuka lapangan pekerjaan dan mengurangipenggunaan bahan-bahan industri missal
·         Mendesain satu ruang dengan banyak fungsi(multifungsi)
·         Desain opan plan atau terbuka (tanpa sekat)
·         Membaca potensi masa depan: bambu menjadi pengganti kayu.
·         Tindakan-Tindakan Untuk Mendukung Konstruksi Berkelanjutan
·         Dari mana dan bagaimana produsen mengambilbahan dasar material
·         Transportasi bahan dasar material
·         Limbah produksi
·         Dapatkah sumber daya yang diambil diperbaharui
·         Perlakuan terhadap pekerja setempat
·         Transportasi dari sumber ke lahan konstruksi
·         Mengoptimalkan penggunaan material termasuk sisanya.
·         Re-use dan Re-cycle
·         Gunakan lahan sesedikit mungkin, secukupmungkin








KONSEP RUMAH HEMAT ENERGI


OSLO, (PRLM).- Bangunan beratap miring ini dirancang oleh Research Centre on Zero Emission Buildings dari Norwegia dan perusahaan arsitektur Snøhetta, rumah ramah lingkungan (ecohome) yang mampu menghasilkan tiga kali lebih banyak energi daripada yang dibutuhkan.

Dibangun di Larvick, Norwegia, sebuah purwarupa dari rumah masa depan, memiliki atap seluas 150 meter persegi yang ditutupi panel surya untuk menghasilkan listrik.

Atap ini dimiringkan tepat pada 19 derajat menghadap ke arah tenggara untuk memastikan dapat menangkap sinar matahari sebanyak mungkin dan juga menggabungkan panel surya termal untuk memanaskan air dan pengumpul air hujan untuk kebutuhan toilet dan kebun.

Jendela juga dirancang untuk menangkap sinar matahari sebanyak mungkin untuk membantu menjaga rumah tetap hangat.

Para desainer mengklaim bahwa rumah ini menghasilkan 19.200 kWh listrik dari panel surya setiap tahunnya, sedangkan kolektor surya yang digunakan untuk memanaskan air mengumpulkan lebih 4.000 kWh per tahun. Secara total menghasilkan energi yang cukup untuk merebus ketel 185.600 kali.

KONSEP RUMAH SEHAT

(green building, seoul)
Rumah yang baik dibuat dengan memperhatikan berbagai komponen penting yang mempengaruhi sebuah rumah. Beberapa unsur penting seperti pencahayaan, tata ruang, konsep pintu, jendela, dan ventilasi, sumber air, konsep sanitasi (sampah, limbah rumah tangga, kamar mandi, WC) dll. harus diperhatikan untuk menciptakan rumah dengan kriteria sehat.

Jendela dan ventilasi adalah bagian yang sangat penting untuk menciptakan rumah yang sehat. Jendela dan ventilasi mengatur tata pencahayaan dan mengatur keluar masuknya udara. Arah datangnya cahaya matahari harus diperhatikan untuk mengatur panas dan cahaya yang masuk kedalam rumah. Ventilasi disesuaikan dengan ukuran ruangan yang ada. Semakin besar ukuran jendela dan ventilasi akan memperbesar penghilangan panas dan masuknya udara.

Pengaturan ruang juga menjadi hal pokok dalam pembuatan rumah sehat. Letak ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi harus diperhatikan. Peletakan kamar mandi yang berdekatan dengan ruang makan harus dihindari. Jika tidak memungkinkan untuk meletakkan kamar mandi bersebrangan dengan ruang makan (karena areal lahan pembuatan rumah yang minim), maka pengaturan ventilasi kamar mandi harus dibuat sebaik mungkin. Sirkulasi udara harus langsung dari luar rumah artinya, ventilasi berbatasan dengan lingkungan luar rumah.

Pembuatan rumah yang sehat harus memperhatikan kondisi geografis areal yang akan dibuat rumah. ketersediaan air bersih harus diperhatikan. Selain itu rumah sehat juga harus memperhatikan sanitasi. Letak pembuangan sampah harus diperhatikan, sebaiknya sejauh mungkin dari rumah dan tidak mengganggu kenyamanan kita. WC dan pembuangan limbah rumah tangga harus dibuat dengan baik agar tidak mencemari lingkungan. Selain itu hal penting yang perlu diingat adalah jarak dengan sumur atau sumber air minimal 10 m. mengapa demikian? hal ini dikarenakan zat-zat kimia dan organisme mikroskopik biasanya masih banyak terdapat disekitar penampungan WC dan pembuangan limbah rumah tangga.

Rumah sehat juga harus memperhatikan faktor biologi lingkungan sekitar rumah. Sebaiknya tanam beberapa pohon yang perakarannya tidak merusak bangunan sebagai penyedia kebutuhan oksigen dirumah kita. Selain itu dengan menanam pohon lingkungan rumah juga menjadi asri, teduh.


 Sumber; 

Sunday, 6 November 2016

EKSPORISASI DAN KONSUMSI SUMBER DAYA YANG BERLEBIH

Sumber Daya Alam merupakan anugerah terbesar dari sang Pencipta yang harus kita syukuri dengan cara memanfaatkan sebaik-baiknya. Namun kita juga tidak boleh hanya memanfaatkannya saja, disamping kita memanfaatkan Sumber Daya Alam tersebut kita juga harus bisa menjaga, merawat dan juga meleslestarikannya, agar bisa diwariskan kepada anak cucu kita kelak. Beragam cara untuk memanfaatkan Sumber Daya Alam yang terhampar luas di Indonesia ini, salah satunya adalah dengan Mengeksploitasi Sumber Daya Alam tersebut. Eksploitasi berasal dari baahsa inggris yaitu Explotation yang artinya “Politik Pemanfaatan secara sewenang-wenang dan terlalu berlebihanterhadap sesuatu atau yang menjadi Objek Eksploitasi hanya untuk kepentingan Ekonomi semata-mata tanpa mempertimbangkan rasa kepatutan, keadilan serta kompensasi kesejahteraan”.

Eksploitasi Sumber Daya Alam secara berlebihan tanpa memperhatikan aspek-aspek yang dapat merugikan kita semua, bukan hanya oknum yang melakukan Eksploitasi saja yang akan merasakan dampaknya namun seluruh makhluk hisup yang ada di bumi juga akan merasakan efek dari Eksploitasi yang berlebihan itu. Banyak sekali dampak yang akan ditimbulkan oleh Eksploitasi yang sangat berlebihan itu, diantaranya tanah longsor, banjir, kabut asap, pemanasan global yang sampai sekarang kita rasakan ini juga tidak lupa bencana lumpur panas sidoarjo yang sangat merugikan sekali masyarakat.

Tanah Longsor terjadi disebabakan oleh penggundulan hutan atau pepohonan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap kelestarian hutan. Ketika hutan dalam keadaan gundul makan formasi tanah akan menjadi larut dan menggelincir diatas bidang licin pada saat terjadi hujan, tanah tidak bisa menahan erosi yang disebabkan oleh air hujan yang turun dikarenakan penyangga tanah yaitu akar dari pepohonan sudah ditebang tidak dapat berfungsi kembali. Sehingga bencana banjir dan tanah longsor tidak bisa dihindarkan lagi dan telah menjadi bencana langganan di Indonesia ini.

Selain bencana tanah longsor yang sudah populer dikalangan penduduk Indonesia, Banjir pun menjadi bencana alam yang sering melanda. Bencana ini bisa terjadi dikarenakan pola tingkah laku manusia sendiri yang tidak disiplin dan tidak menuruti aturan, baik aturan yang tersirat maupun yang tersurat. Pola tingkan manusia yang suka membuang sampah sembarangan mengakibatkan rusaknya tata guna lahan dan air. Rusaknya Tata Guna lahan dan air mengakibatkan laju erosi dan frekwensi banjir meningkat. Selain bisa menimbulkan bencana banjir, membuang sampah pun bisa menimbulkan polusi air dan pencemaran air yang dapat mengurangi kualitas air.

Indonesia merupakan negeri yang kaya akan Sumber Daya Alam dan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Indonesia memiliki kurang lebih hutan seluas 12,6 juta hektar (Walhi or.id). Wilayah tropisnya masuk urutan ketiga terluas di dunia dengan cadangan minyak, gas alam, tembaga, emas, perak, intan dan mineral lainya masih banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan satu per satu. Bukan hanya di daratan saja Indonesia memiliki kekayaan Sumber Daya Alam yang melimpah, di laut pun Sumber Daya Alamnya tidak kalah beragam. Terumbu karang dan beragam biota laut lainnya memperkaya ke-17.000 pulau yang ada di kepulauan Nusantara Republik Indonesia. 

Lebih dari iru Indonesia memiliki tanah dan area lautan yang luas dan kaya dengan berjenis macam ekologi. Indonesia menempati kurang lebih 1.3 persen dari wilayah bumi, mempunyai kira 10 persen jenis tanaman dan bunga yang ada di dunia, 12 persen jenis binatang menyusui, 17 persen jenis burung, 25 persen jenis ikan, dan 10 persen sisa area hutan tropis yang kedua setelah brazil (1994).


Arsitektur berkelanjutan memiliki banyak pengertian dari berbagai pihak. Beberapa diantaranya adalah pengertian yang dikutip dari buku James Steele, Suistainable Architecture adalah, ”Arsitektur yang memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang, dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Kebutuhan itu berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, dari satu kawasan ke kawasan lain dan paling baik bila ditentukan oleh masyarakat terkait.”
KONSEP

Secara umum, pengertian dari arsitektur berkelanjutan adalah sebuah konsep terapan dalam bidang arsitektur untuk mendukung konsep berkelanjutan, yaitu konsep mempertahankan sumber daya alam agar bertahan lebih lama, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan lingkungan ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri, kehutanan, dan tentu saja arsitektur. Kerusakan alam akibat eksploitasi sumber daya alam telah mencapai taraf pengrusakan secara global, sehingga lambat tetapi pasti, bumi akan semakin kehilangan potensinya untuk mendukung kehidupan manusia, akibat dari berbagai eksploitasi terhadap alam tersebut.

Arsitektur berkelanjutan merupakan konsekuensi dari komitmen internasional tentang pembangunan berkelanjutan, karena arsitektur berkaitan erat dan fokus perhatiannya kepada faktor manusia dengan menitikberatkan pada pilar utama konsep pembangunan berkelanjutan yaitu aspek lingkungan binaan dengan pengembangan lingkungannya, di samping pilar pembangunan ekonomi dan sosial.

Pembangunan berkelanjutan itu sendiri adalah suatu pola penggunaan sumber daya yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia sambil menjaga lingkungan sehingga kebutuhan tersebut dapat dipenuhi tidak hanya di masa kini, tetapi juga untuk generasi mendatang. Istilah ini digunakan oleh Komisi Brundtland yang menciptakan apa yang telah menjadi yang paling sering dikutip definisi pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

MATERIAL

Dalam efisiensi penggunaan material :
1.  Memanfaatkan material sisa untuk digunakan juga dalam pembangunan, sehingga tidak membuang material, misalnya kayu sisa dapat digunakan untuk bagian lain bangunan.
2.     Memanfaatkan material bekas untuk bangunan, komponen lama yang masih bisa digunakan, misalnya sisa bongkaran bangunan lama.
3. Menggunakan material yang masih berlimpah maupun yang jarang ditemui dengan sebaik-baiknya, terutama untuk material seperti kayu.
Dalam penggunaan teknologi dan material baru :

1.   Memanfaatkan potensi energi terbarukan seperti energi angin, cahaya matahari dan air untuk menghasilkan energi listrik domestik untuk rumah tangga dan bangunan lain secara independen.
2.   Memanfaatkan material baru melalui penemuan baru yang secara global dapat membuka kesempatan menggunakan material terbarukan yang cepat diproduksi, murah dan terbuka terhadap inovasi, misalnya bambu.

KONSTRUKSI

- Kontribusi Bidang Konstruksi Terhadap Kerusakan Alam
  • Pengambilan material
  • Proses pengolahan material
  • Distribusi material jadi dari sumbernya kelokasi pembangunan
  • Proses konstruksi
  • Pengambilan lahan untuk bangunan
  • Konsumsi energi sejak saat dimulai bangunan dipakai

- Konstruksi Berkelanjutan, menurut UNEP (United Nations Environment Programme) adalahcara industri konstruksi untuk berkembang mencapai kualitas pembangunan berkelanjutan denganmemperhitungkan pelestarian lingkungan, sosial ekonomi, dan isu budaya. Secara spesifik hal ini melibatkan isu seperti desain, manajemen bangunan, material, kualitas operasional bangunan, konsumsi energi, dan sumber daya alam.

- Konstruksi Berkelanjutan Dalam Konteks Arsitektur

  • Arsitektur bukanlah suatu entitas yang lepas dan mandiri. Keberadaannya harus menjadi kesatuan integral dengan sekitarnya, baik secara sosial, spasial maupun lingkungan.
  • Berarsitektur dengan memperkuat nilai-nilai Kebersamaan.
  • Berarsitektur dengan menghargai ekspresi/identitas budaya sebagai cerminan nilai-nilai transenden.
  • Menggunakan bahan dan keterampilan lokal.
  • Menghargai pepohonan sama dengan menghargai kehidupan.
  • Adaptif terhadap iklim secara aktif dan kreatif.
  • Menggunakan bahan bekas dan komponen lama.
  • Menggunakan bahan daur ulang bekas limbah.
  • Menggunakan bahan secermat mungkin tanpasisa, tanpa limbah.
  • Menggunakan desain padat karya agar dapat membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi penggunaan bahan-bahan industri missal.
  • Mendesain satu ruang dengan banyak fungsi (multifungsi).
  • Desain opan plan atau terbuka (tanpa sekat).
  • Membaca potensi masa depan: bambu menjadi pengganti kayu.

- Tindakan-Tindakan Untuk Mendukung Konstruksi Berkelanjutan
  • Dari mana dan bagaimana produsen mengambilbahan dasar material
  • Transportasi bahan dasar material
  • Limbah produksi
  • Dapatkah sumber daya yang diambil diperbaharui
  • Perlakuan terhadap pekerja setempat
  • Transportasi dari sumber ke lahan konstruksi
  • Mengoptimalkan penggunaan material termasuk sisanya.
  • Re-use dan Re-cycle
  • Gunakan lahan sesedikit mungkin, secukup mungkin